Selasa, 07 Mei 2013

“Bedah tulang pak, spesialis ortopedi itu loh..,"



"Not to know what happened before one was born is to remain child" - Cicero

Tulisan saya yang pertama di blog ini akan dimulai dengan suatu obrolan singkat. Obrolan ini terjadi waktu saya mengantar adik ke sekolahannya yang juga sekolah saya dulu dan bertemu salah seorang guru. Setelah memberi salam ke beliau, kami terlibat percakapan hangat hampir satu jam lamanya. Tapi ada obrolan yang menarik,
“jadi sekarang udah dokter umum y.., gak lanjut sekolah?”
“iya pak, nanti tahun depan insyaallah ikut tes ppds. Sekarang masih magang dan ptt dulu, ngumpulkan amunisi buat perang.., hhe..” jawab saya sambil sedikit cengengesan.
“emang mau ambil spesialis apa?”
“saya minat di tulang-tulang gitu pak, jadi pingin jadi dokter tulang, hhe...” ok, saya akui, ini jadi kelihatan gak keren, dan semisal saya nanti ujian tes ppds ditanya oleh pewawancara alasan masuk orthopedi kemudian jawabannya karena saya suka tulang.., hmm…, yang ada bukan dipertimbangkan lulus tapi dikonsul ke ahli jiwa mungkin. Kembali ke percakapan dengan pak guru. Kemudian beliau terdiam, saya cepat2 menambahkan.
“Bedah tulang pak, spesialis ortopedi itu loh.., gak cuman tulang aja, tapi ortopedi dan trauma..” dan beliau sekarang memasang muka serius, dan tampak bingung.
“Loh kok masuk situ sih nak? Kok gak penyakit dalam, obgyn, anak, atau bedah, kan banyak dibutuhkan? Bedah tulang itu sapa di sini? “ dan saya mendapatkan kesan seperti “loh kok masuk universitas X? kok gak masuk Unsri, UI, atau Unpad aja? Universitas X itu apaan? ”

Ortopedi itu apaan sih? produk yang dijual jadi peninggi badan itu ya? bukan cuy! Yah izinkan saya nulis sedikit sejarah dan pengertian tentang bedah ortopedi.

  Sebenernya di buku teks semisal Salter tulisan ortopedi yang digunakan adalah orthopaedia dan orthopaedics dalam bahasa inggris. Namun dalam buku teks Indonesia oleh Prof Chairuddin Rasjad penulisannya adalah ortopedi, jadi kita gunakan kata ortopedi saja dalam bahasa Indonesia. Ortopedi sendiri adalah bahasa Yunani gabungan dari kata orthos (lurus) dan pais (anak). Orang yang pertama kali menggunakan istilah ini adalah Nicolas Andry pada tahun 1741. Beliau merupakan professor ilmu kedokteran yang berasal dari paris dan membuat buku yang berjudul “Orthopaedia, or the Art of Preventing and Correcting Deformities in Children”. Dalam buku ini dikatakan bahwa sebagian besar deformitas pada dewasa bermula sejak anak-anak. Oke kembali lagi ke istilah ortopedi, bagaimana bisa istilah ini mewakili dan bertahan selama 2 abad? Saya belum bisa mendapat penjelasannya juga sih, tapi saya bisa memberikan analognya dan mudah-mudahan nyambung sedikit^^. Pasti semua pembaca pernah mengalaminya, yaitu mempunyai teman A dan berpacaran dengan B. Semua orang akhirnya tahu bahwa A adalah pacar B. Kemudian A dan B itu putus. Setelah lama sejak putus itu, kalian bergosip atau sekedar menanyakan kabar tentang B. Percayalah bahwa kalian akan terus mengaitkan B dengan A, misalnya, “eh tadi saya ketemu di B di lift?”, “ B? B yang mana?”, “itu tuh, B nya A yang dulu..”. (padahal kan udah putus, masih aja dikait-kaitkan). Hmm.., nyambung gak sih? Yah gitu deh. Mohon maaf klo keluar topik.
    Pelopor lainnya dalam bedah ortopedi adalah Sir Ashtley Cooper (1768-1848) yang menulis buku tentang “Treatise on Dislocation and Fractures of the Joints”. Di Inggris sendiri terdapat 2 orang yang dianggap pelopor ortopedi yaitu Hugh Owen Thomas (1834-1891) dan Robert Jones (1857-1933).
       Definisi ortopedi akhirnya berkembang seiring waktu. Pada tahun 1953, American Board of Orthopaedic Surgery menyebutkan: Orthopaedic Surgery is the Branch of Surgery especially concern with the preservation and restoration of function of the skeletal system. Pada waktu itu ortopedi masih dianggap sebagai cabang dalam ilmu bedah. Definisi ini berubah 7 tahun kemudian oleh lembaga yang sama menjadi: Ortopaedic is medical specialty that includes investigation, preservation, restoration, and development of the form and function of the extremities, spine, and assorted structure by medical, surgical, and physical method. Definisi ini menyatakan bahwa ortopedi adalah suatu cabang ilmu kedokteran dan bukan lagi cabang dari ilmu bedah.

    Cakupan ortopedi meliputi penatalaksanaan kelainan pada sistem musculoskeletal dan struktur yang melekat di dalamnya dari hulu hingga ke hilir, yaitu preventif, kuratif, hingga rehabilitasi pada semua kelompok usia. Di beberapa negara, ortopedi juga mencakup “sport medicine” yang merupakan ahli khusus dari bidang ortopedi dalam pencegahan dan penangan cedera olahraga. Selain itu kelainan degenerative pada sendi akibat meningkatnya angka harapan hidup pada masyarakat juga menjadi perhatian ahli ortopedi.
      Bagaimana di Indonesia? Ok, Sedikit ulasan sejarah bedah ortopedi di Indonesia. Bedah ortopedi berawal dari Prof. Dr. Raden Soeharso, FICS, dengan didirikannya pusat rehabilitasi (Rehabilitation Center) bagi penderita cacat oleh pemerintah pada tahun 1951 di Surakarta. Pada tahun 1954, pusat rehabilitasi tersebut dilengkapi dengan lembaga bedah ortopedi. Pendidikan formal bedah ortopedi pertama kali di Jakarta yang dibantu oleh “Care Medico” pada tahun 1968.

    Nah, sekarang pembaca sudah sedikit tahu kan sejarah dan definisi dari ortopedi sendiri? Terus kenapa pada sebagian orang ahli ortopedi masih belum terlalu dikenal? Hal ini karena di daerah-daerah tertentu penanganan bedah ortopedi masih ditangani oleh ahli bedah umum, selain itu biaya tindakan yang cukup mahal serta fasilitas rumah sakit yang terbatas merupakan masalah yang harus dihadapi dalam distribusi ahli ortopedi di Indonesia. Yah, pengalaman saya di daerah, bahkan ada pakde saya yang tinggal di kota besar dengan ketersediaan ahli ortopedi yang lebih dari cukup di kota tersebut, mereka masih lebih memilih datang ke dukun patah tulang daripada ke ahli ortopedi. Dan faktanya mereka yang berobat ke dukun patah tulang ini berasal dari berbagai tingkat ekonomi dan derajat sosial. Jadi ahli ortopedi bisa dikatakan masih kalah pamor dengan dukun patah tulang. Pasien patah tulang ini biasanya datang ke ahli ortopedi setelah terjadi penyulit atau komplikasi sehingga membutuhkan perawatan yang lebih lama dan kompleks. Yah, namanya juga orang Indonesia, ya gitu deh. Jadi melalui blog ini, walaupun saya masih dokter umum, bisa sedikit membantu mensosialisasikan ahli ortopedi agar hal-hal yang dapat dicegah tidak perlu terjadi.

referensi:
1. buku teks Salter
2. buku teks Prof Chairuddin Rasjad, MD, Ph.D