"Not to know what happened before one was born is to remain child" - Cicero
Tulisan saya yang pertama di
blog ini akan dimulai dengan suatu obrolan singkat. Obrolan ini terjadi waktu
saya mengantar adik ke sekolahannya yang juga sekolah saya dulu dan bertemu
salah seorang guru. Setelah memberi salam ke beliau, kami terlibat percakapan
hangat hampir satu jam lamanya. Tapi ada obrolan yang menarik,
“jadi sekarang udah dokter
umum y.., gak lanjut sekolah?”
“iya pak, nanti tahun depan
insyaallah ikut tes ppds. Sekarang masih magang dan ptt dulu, ngumpulkan
amunisi buat perang.., hhe..” jawab saya sambil sedikit cengengesan.
“emang mau ambil spesialis
apa?”
“saya minat di tulang-tulang
gitu pak, jadi pingin jadi dokter tulang, hhe...” ok, saya akui, ini jadi kelihatan
gak keren, dan semisal saya nanti ujian tes ppds ditanya oleh pewawancara
alasan masuk orthopedi kemudian jawabannya karena saya suka tulang.., hmm…,
yang ada bukan dipertimbangkan lulus tapi dikonsul ke ahli jiwa mungkin.
Kembali ke percakapan dengan pak guru. Kemudian beliau terdiam, saya cepat2
menambahkan.
“Bedah tulang pak, spesialis
ortopedi itu loh.., gak cuman tulang aja, tapi ortopedi dan trauma..” dan
beliau sekarang memasang muka serius, dan tampak bingung.
“Loh kok masuk situ sih nak?
Kok gak penyakit dalam, obgyn, anak, atau bedah, kan banyak dibutuhkan? Bedah
tulang itu sapa di sini? “ dan saya mendapatkan kesan seperti “loh kok masuk
universitas X? kok gak masuk Unsri, UI, atau Unpad aja? Universitas X itu
apaan? ”
Ortopedi itu apaan sih? produk yang dijual jadi peninggi badan itu ya? bukan cuy! Yah izinkan saya nulis sedikit sejarah dan pengertian tentang bedah ortopedi.
Sebenernya di buku teks semisal Salter tulisan ortopedi yang digunakan adalah orthopaedia dan orthopaedics
dalam bahasa inggris. Namun dalam buku teks Indonesia oleh Prof Chairuddin
Rasjad penulisannya adalah ortopedi, jadi kita gunakan kata ortopedi saja dalam
bahasa Indonesia. Ortopedi sendiri adalah bahasa Yunani gabungan dari kata orthos (lurus) dan pais (anak). Orang yang pertama kali menggunakan istilah ini adalah
Nicolas Andry pada tahun 1741. Beliau merupakan professor ilmu kedokteran yang
berasal dari paris dan membuat buku yang berjudul “Orthopaedia, or the Art of Preventing and Correcting Deformities in
Children”. Dalam buku ini dikatakan bahwa sebagian besar deformitas pada
dewasa bermula sejak anak-anak. Oke kembali lagi ke istilah ortopedi, bagaimana
bisa istilah ini mewakili dan bertahan selama 2 abad? Saya belum bisa mendapat
penjelasannya juga sih, tapi saya bisa memberikan analognya dan mudah-mudahan
nyambung sedikit^^. Pasti semua pembaca pernah mengalaminya, yaitu mempunyai
teman A dan berpacaran dengan B. Semua orang akhirnya tahu bahwa A adalah pacar
B. Kemudian A dan B itu putus. Setelah lama sejak putus itu, kalian bergosip
atau sekedar menanyakan kabar tentang B. Percayalah bahwa kalian akan terus
mengaitkan B dengan A, misalnya, “eh tadi saya ketemu di B di lift?”, “ B? B
yang mana?”, “itu tuh, B nya A yang dulu..”. (padahal kan udah putus, masih aja
dikait-kaitkan). Hmm.., nyambung gak sih? Yah gitu deh. Mohon maaf klo keluar topik.
Pelopor lainnya dalam bedah ortopedi adalah Sir Ashtley
Cooper (1768-1848) yang menulis buku tentang “Treatise on Dislocation and Fractures of the Joints”. Di Inggris
sendiri terdapat 2 orang yang dianggap pelopor ortopedi yaitu Hugh Owen Thomas
(1834-1891) dan Robert Jones (1857-1933).
Definisi ortopedi akhirnya berkembang seiring waktu. Pada
tahun 1953, American Board of Orthopaedic Surgery menyebutkan: Orthopaedic Surgery is the Branch of Surgery
especially concern with the preservation and restoration of function of the
skeletal system. Pada waktu itu ortopedi masih dianggap sebagai cabang
dalam ilmu bedah. Definisi ini berubah 7 tahun kemudian oleh lembaga yang sama
menjadi: Ortopaedic is medical specialty
that includes investigation, preservation, restoration, and development of the
form and function of the extremities, spine, and assorted structure by medical,
surgical, and physical method. Definisi ini menyatakan bahwa ortopedi
adalah suatu cabang ilmu kedokteran dan bukan lagi cabang dari ilmu bedah.
Cakupan ortopedi meliputi penatalaksanaan kelainan pada
sistem musculoskeletal dan struktur yang melekat di dalamnya dari hulu hingga
ke hilir, yaitu preventif, kuratif, hingga rehabilitasi pada semua kelompok
usia. Di beberapa negara, ortopedi juga mencakup “sport medicine” yang
merupakan ahli khusus dari bidang ortopedi dalam pencegahan dan penangan cedera
olahraga. Selain itu kelainan degenerative pada sendi akibat meningkatnya angka
harapan hidup pada masyarakat juga menjadi perhatian ahli ortopedi.
Bagaimana di Indonesia? Ok, Sedikit ulasan sejarah bedah ortopedi di Indonesia. Bedah
ortopedi berawal dari Prof. Dr. Raden Soeharso, FICS, dengan didirikannya pusat
rehabilitasi (Rehabilitation Center) bagi penderita cacat oleh pemerintah pada
tahun 1951 di Surakarta. Pada tahun 1954, pusat rehabilitasi tersebut
dilengkapi dengan lembaga bedah ortopedi. Pendidikan formal bedah ortopedi
pertama kali di Jakarta yang dibantu oleh “Care Medico” pada tahun 1968.
Nah, sekarang pembaca sudah sedikit tahu kan sejarah dan
definisi dari ortopedi sendiri? Terus kenapa pada sebagian orang ahli ortopedi
masih belum terlalu dikenal? Hal ini karena di daerah-daerah tertentu
penanganan bedah ortopedi masih ditangani oleh ahli bedah umum, selain itu
biaya tindakan yang cukup mahal serta fasilitas rumah sakit yang terbatas
merupakan masalah yang harus dihadapi dalam distribusi ahli ortopedi di
Indonesia. Yah, pengalaman saya di daerah, bahkan ada pakde saya yang tinggal
di kota besar dengan ketersediaan ahli ortopedi yang lebih dari cukup di kota
tersebut, mereka masih lebih memilih datang ke dukun patah tulang daripada ke
ahli ortopedi. Dan faktanya mereka yang berobat ke dukun patah tulang ini
berasal dari berbagai tingkat ekonomi dan derajat sosial. Jadi ahli ortopedi
bisa dikatakan masih kalah pamor dengan dukun patah tulang. Pasien patah tulang
ini biasanya datang ke ahli ortopedi setelah terjadi penyulit atau komplikasi
sehingga membutuhkan perawatan yang lebih lama dan kompleks. Yah, namanya juga
orang Indonesia, ya gitu deh. Jadi melalui blog ini, walaupun saya masih dokter
umum, bisa sedikit membantu mensosialisasikan ahli ortopedi agar hal-hal yang
dapat dicegah tidak perlu terjadi.
referensi:
1. buku teks Salter
2. buku teks Prof Chairuddin Rasjad, MD, Ph.D
seperti liat blogsendiri deh, hikss..:D
BalasHapusinfo yg sangant bermanfaat
BalasHapushttp://perbanelastis.blogspot.co.id/p/prop.html
info yg sangant bermanfaat
BalasHapushttp://perbanelastis.blogspot.co.id/p/prop.html